Friday, May 31, 2013

Post Match Analysis: Borussia Dortmund vs Bayern Munchen

Dua kali diberikan harapan palsu saat final ditambah kekalahan yang menyesakkan musim lalu dikandang sendiri membuat kemenangan pada partai final kali ini menjadi lebih berkesan bagi Bayern Munchen. Trofi "Big Ear" sukses didaratkan Juup Heynckes diakhir masa baktinya bagi Die Roten. Partai yang berkesudahan dengan skor hanya 1-2 tidak mencerminkan jalannya pertandingan. Duel Der Klassiker berjalan sangat menarik, saling jual serangan dan diselingi aksi heroik dari kedua penjaga gawang. Tentu saja hal ini membungkam media dan bos UEFA, Michel Platini, yang mengatakan bahwa pertandingan akan berjalan membosankan karena mempertemukan dua tim satu negara dan Jerman pula. Ya, mungkin mereka terkahir kali menyimak sepakbola Jerman saat Lothar Matthaus dengan egonya bermain bagi timnas Jerman pada Euro 2000 demi memperoleh caps terbanyak.

Mendominasi Dengan Pressing

Dalam 25 menit pertama, Dortmund bermain sangat dominan. Jurgen Klopp menginstruksikan kepada anak buahnya untuk bermain dengan high pressing. Tidak hanya didaerah sendiri, bahkan high pressing tersebut dijalankan didaerah pertahanan Munchen. Lewandowski yang memang memiliki kelebihan dalam insting bertahannya meberikan tekanan lebih kepada dua centre back Munchen serta bersama Reus, mereka merusak konsentrasi double pivot  Munchen malam itu. Gundogan dan Bender bermain cukup solid sebagai tembok pertama pertahanan Dortmund, bersama dengan Groskreutz yang jarang menyerang, mereka mengurung lini tengah Munchen yang kurang teroganisir pada awal jalannya pertandingan. Dengan high pressing yang diterapkan Klopp, kekurangan yang dimiliki Dortmund dalam memenangi duel udara dapat tertutupi dengan tekanan yang langsung diberikan saat bola jatuh ke lapangan.

Dari chalkboard diatas memperlihatkan tekanan yang diberikan Dortmund dalam 25 menit pertama. Intersep dan tekel banyak mereka lakukan di lini tengan bahkan di wilayah Munchen. Taktik berani yang diusung Klopp malam itu berhasil justru karena tidak bermainnya Gotze dan digantikan oleh Groskreutz. Ia bermain lebih defensif serta jarang melakukan tusukan ke pertahanan Munchen. Kemampuannya berduel ditunjang dengan badan yang besar, bersama dengan Schmelzer, mereka saling melapis pertahanan sisi kiri Dortmund dari serangan Robben dan Lahm. Dominasi Dortmund dalam 25 menit pertama semakin terlihat dari jumlah shot attempt Dortmund yang mencapai 6 dengan 4 diantaranya merupakan shot on target sedangkan Munchen hanya memperoleh 1 shot on target (lihat chalkboard dibawah).



Alur Serang Dortmund



Absennya Gotze pada partai final ini memang mengurangi daya kreatif serangan Dortmund. Dortmund yang biasanya memiliki dua otak kreatif (Reus dan Goetze), pada malam itu harus bertumpu pada Reus seorang. Groskreutz sendiri bukan tipikal pemain tengah dengan daya jelajah dan visi kreatif yang tinggi. Ia juga tidak rajin melakukan tusukan - tusukan atau sesekali cut inside ke lini pertahanan Munchen. Namun Klopp memberikan keleluasaan bagi Lewandowski dan Reus untuk berganti posisi dengan cair, seperti yang pernah terjadi di Manchester United kala Rooney-Ronaldo-Tevez disatukan. Jika dilihat dari player position, posisi Reus berada lebih depan dari Lewandowski (lihat chalkboard diatas). Dalam jalannya pertandingan sendiri Dortmund lebih bermain dengan formasi 4-4-1-1 ketimbang 4-2-3-1. Kombinasi  antara Groskreutz-Reus/Lewandowski-Kuba saat menyerang dan peran Gundogan yang tidak hanya fokus bertarung di lini tengah tapi juga ikut memainkan serangan dengan mendorong bola kedepan untuk memasuki wilayah Munchen membuat Schweinsteiger dan Javi Martinez kerepotan. Double pivot Munchen akhirnya terbagi, ketika Schweinsteiger turun lebih dalam membantu dua centre back,  Javi Martinez berjuang sendirian di lini tengah karena Robben dan Ribery bermain melebar dan kurang sigap untuk trackback selepas menyerang pada babak pertama.



Dari chalkboard diatas menunjukkan alur serangan Reus lebih condong dilakukan dari sisi kiri pertahanan Munchen yang malam itu dijaga oleh Alaba. Kombinasi duo Polandia, Kuba-Piszczek lah yang berjasa merusak link yang terjalin antara Alaba dan Ribery. Kuba dan Piszczek memberikan tekanan dan melalui kerjasamanya sukses membuat para penonton tidak melihat adanya Ribery malam itu. Reus yang melihat celah itu memanfaatkannya dengan mengeksploitasi lini pertahanan sebelah kiri Munchen. Ini membuat Alaba menjadi terlalu sibuk dibelakang dan tidak dapat memberikan support untuk Ribery yang habis ditahan Kuba dan Piszczek.

Munchen Membalik Keadaan


Dengan kondisi lini tengah yang dikuasai Dortmund dengan high pressing-nya yang merepotkan, Juup Heynckes berusaha keluar dari tekanan tersebut, pelatih gaek tersebut meng-counter taktik Klopp dengan melakukan umpan direct ke Mandzukic. Boateng menjadi aktor utama atas umpan - umpan panjang yang dilakukan Munchen, tercatat 7 long pass ke daerah pertahanan Dortmund berhasil Boateng lakukan. Keunggulan Munchen dalam duel udara benar - benar menjadi penyelamat pada malam itu selain pressing Dortmund yang mengendur pada babak kedua. Dengan umpan direct langsung kedepan, Munchen mulai mendapatkan peluang. Pada babak kedua, Dortmund mulai mengendur, memang sulit bermain dengan high pressing selama 90 menit. Munchen memanfaatkan keadaan dengan bermain lebih menyerang dan menempatkan Robben untuk membuka ruang ditengah. Lini tengah dan belakang Dortmund yang mulai menurun performanya juga tidak siap dengan perubahan gaya bermain Munchen membuat jalannya pertandingan menjadi terbalik. Munchen mendominasi pada babak kedua.























Dua gol Munchen malam itu memperlihatkan ketepatan Heynckes dalam menarik Roben ke tengah dan memberikan ruang bagi Muller untuk menjelajah sisi lapangan. Dortmund kerepotan dalam menjaga pergerakan Robben dan juga Muller-Ribery yang bermain dibelakangnya. Pada gol pertama terlihat jelas barisan belakang Dortmund terfokus pada Ribery dan tidak melihat pergerakkan tanpa bola Robben yang berbahaya dengan menusuk ketengah pertahanan Dortmund. Mandzukic dengan mudah menceploskan bola tanpa kawalan dari Schmelzer yang tertarik ketengah karena lini tengah pertahanan Dortmund ditinggal oleh Hummel dan Subotic. Dan pada gol penentu kemenangan menunjukkan konsentrasi lini belakang Dortmund mulai hilang, entah mengapa Piszczek menjadi kewalahan dalam menjaga Ribery, dan lagi - lagi kehadiran Robben dari second line tidak terdeteksi oleh Bender dan Gundogan.

Pemain Terbaik: Arjen Robben

Robben memiliki banyak peluang setidaknya ada tiga peluang emas dan satu diantaranya membuahkan gol kemenangan dan juga satu assist. Gerakan tanpa bolanya berbahaya, dan ia mampu menusuk dengan cepat ke jantung pertahanan Dortmund. Kurang baiknya penampilan Ribery mampu ia tutupi terutama setelah Heynckes menariknya agar lebih bermain ketengah.

Pemain Terburuk: Mats Hummels

Entah apa yang ada dipikiran Hummels malam itu, mungkin ia sudah tidak sabar untuk mengepak baju dan segera menaiki pesawat ke Barcelona. Dua gol Munchen merupakan hasil kealfaan Hummels dalam menjaga pemain Munchen. Gol pertama, ia menjadi orang terdekat dengan Robben yang bergerak masuk ke kotak pinalti Dortmund, namun Hummels tidak melihatnya. Gol kedua Hummels telat dalam menutup pergerakan Robben. Sepanjang permainan pun Hummels acap kali lupa kembali keposisinya ketika ia tertarik ke sisi kanan atau kiri pertahanan Dortmund.

Statistic by: -Stats Zone apps by Four Four Two & Opta
                  -Whoscored.com

Wednesday, May 29, 2013

Bye Bye Becks !




Minggu sore di tahun 1998, di hari terakhir libur kenaikan kelas, membuat saya harus bergegas potong rambut ke tukang cukur kesayangan. Kita tahu sampai sekarang saat - saat seperti ini lah dimana tukang cukur lebih ramai dari pada sevel di malam minggu. Rutinitas potong rambut sebelum masuk sekolah selalu terasa mencekam. Saya tidak suka rambut pendek, terlihat seperti Paul Gascoigne. Bantet. Dengan langkah penuh rasa malas, saya memasuki ruangan penuh kaca tersebut, sekelebat terlihat model - model "Top Collection" menempel di dinding. Tidak, saya tidak mau berpotongan seperti John Travolta di film Grease. Jangan, jangan berikan saya nomer 25, itu terlihat seperti Jeff Goldblum di film Jurassic Park. Entah mengapa sore itu saya meneguhkan niat untuk berpotongan seperti David Beckham. Ya, belah tengah yang menawan, walaupun ketika diaplikasikan ke kepala saya tidaklah lebih seperti Paul Gascoigne berambut. Tetap bantet.


Saya memilih Beckham bukanlah asal atau dibisiki hal aneh layaknya Van Persie dibisiki oleh "The Little Boy inside me" saat memutuskan untuk menjadi Judas bagi Arsenal. Beckham saat itu menjadi pujaan saya, bocah berumur 7 tahun. Saat itu tentu saya tidak tahu bahwa Beckham memiliki crossing yang mematikan nan indah, tidak jg tahu bahwa Beckham memiliki tendangan bebas yg akurat dengan posisi menendang yang unik. Beckham yang saya tahu hanya Beckham yang ganteng dan memakai nomer kesukaan saya (nomer 7) di tim kesayangan saya. Ketika beranjak dewasa barulah saya tahu bahwa Beckham adalah ikon sepak bola modern, dialah "brand" bagi dirinya dan apapun yang iya sentuh. Bahkan kalau Beckham mau egois, dia tidak perlu menaruh namanya di sepatu sepakbola keluaran Jerman, dia bisa membuat brand sendiri seperti dia membuat David Beckham Soccer yang menjadi game bola bagi para hipster di PS2.




Sore hari ini saya kembali mengingat apa yang telah Beckham pertontonkan selama saya menikmati sepakbola. Tendangan bebasnya ke gawang Barcelona pada UCL 98/99 begitu indah, Ruud Hesp harus membentangkan tangannya namun tetap tidak bisa menggapai bola tersebut. Ditambah momen selebrasi Beckham yang sebenarnya cukup amburadul namun membekas diingatan karena selalu menjadi opening ditayangan Planet Football di RCTI. Sangat membekas diingatan ketika dua kali tendangan sudut Beckham mengawali dua gol yang membawa MU mendapatkan "Tanah Berjanji"-nya di Final UCL 98/99 yang berakhir teramat dramatis. Bagaimana Beckham menambah cemoohan media Inggris terhadap MU saat mendapat kartu merah karena mendaratkan kakinya ke paha pemain Necaxa pada perhelatan World Club Championship, pada awal musim MU memutuskan untuk tidak mengikuti FA Cup demi mengikuti event tersebut dan ini dinilai memalukan oleh media Inggris. Menurut @hedi, isu kepindahan Beckham ke Real Madrid menjadi berita kepindahan pemain bola dengan durasi terlama. Berita tersebut selalu masuk koran selama 5 bulan. Bahkan melebihi si bocah labil Eden Hazard yang hanya memiliki durasi 3 bulan.



Sayang Beckham tidak memiliki momen emas bersama St George Cross. Kartu merahnya yang ia dapatkan karena aksi teatrikal Diego Simeone, tendangan bebas indahnya ke gawang Yunani, mungkin jadi hal yang kita ingat dari kiprah Beckham bagi timnas Inggris. Juga  kehadirannya di pinggir lapangan pada World Cup 2010 yang membuat para wanita mulai dari dedek - dedek gemes sampai ibu beranak tiga kebingungan mencari pelampiasan dari menawannya Beckham saat itu. Tapi tidak adanya piala yang ia beri bagi timnas Inggris bukanlah persoalan serius, lagi pula Johan Cruyff juga tidak meberikan apa - apa bagi timnas Belanda.



Dipenghujung karirnya, Beckham tetaplah Beckham, tidak pernah meredup. Kepindahaannya ke LA Galaxy membuat nilai jual Major League Soccer meningkat tajam. Dipilihnya sebagai ketua kampanye Inggris dalam memperebutkan tuan rumah World Cup 2018 tidak lebih dikarenakan nilai jual Beckham yang tetap tinggi. Merebak isu yang mengatakan bahwa kepindahan Beckham ke Paris Saint Germain lebih sebagai unjuk kekayaan dari sang owner Nasser Al Khelaifi dan menaikkan pride Qatar dimata dunia. Meminjam kata - kata yang diutarakan Gary Lineker kepada Becks, "A wonderful player, global superstar and a magnificent ambassador for England and for football".



Paris Saint Germain vs Brest menjadi laga terakhirnya, 847 partai telah ia mainkan. Tangisannya saat memeluk Lavezzi yang menggantikannya dimenit 82 diikuti dengan standing ovation dari sekitar 45.000 penonton yang memadati Parc des Prince menjadi pengantar langkahnya keluar dari lapangan yang ia sangat cintai. Beckham mungkin gantung sepatu, namun namanya tidak akan menghilang dari berita. Entah ia akan melanjutkan karir sebagai seorang entertainer atau mengambil kursus kepelatihan atau malah mengambil ekstrakurikuler olahraga lain seperti Michael Jordan ?



Bye Bye Becks!



image by: Getty Images, Associated Press.